Semua artikel oleh rvd

PROFIL DAERAH IRIGASI PLORO

Saluran Induk Ploro Hm. 12+00 beserta areal sawah
Saluran Induk Ploro Hm. 12+00 beserta areal sawah

Daerah Irigasi Ploro adalah daerah irigasi yang mengaliri lahan seluas 225 Ha yang meliputi wilayah Kecamatan, Bayan, Kecamatan Ngombol dan Kecamatan Grabag. Bendung Ploro terletak di Desa Pogung Kalangan Kecamatan Bayan dengan sumber air berasal dari avour Ploro. Merupakan daerah irigasi kewenangan Pemerintah Kabupaten Purworejo dengan Indeks Pertanaman (IP) 220% serta pola tanam Padi-Padi-Palawija.

 Berikut daftar P3A/GP3A DI. Ploro beserta areal layanan masing-masing Desa :

No Nama GP3A/P3A Unit Desa Kecamatan Areal (Ha) Keterangan
I GP3A Sido Makmur     225 Akta Notaris
1 P3A Karya Tani Pogung Kalangan Bayan 6 Akta Notaris
2 P3A Agung Jaya Pogung Juru Tengah Bayan 14 Akta Notaris
3 P3A Sri Sari Mulyo Pogung Rejo Bayan 5 Akta Notaris
4 P3A Sumber Makmur Secang Ngombol 47 Akta Notaris
5 P3A Ngudi Warih Seboro Pasar Ngombol 80 Akta Notaris
6 P3A Usodo Boga Piyono Ngombol 40 Akta Notaris
7 P3A Rukun Tani Tanjung Ngombol 19 Akta Notaris
8 P3A Sumber Urip Kedung Kamal Grabag 14 Akta Notaris

 

PETA DI PLORO

peta di ploro

Kota Samarinda Hemat Listrik Hingga 70 Persen

Solar panel untuk pembangkit listrik tenaga surya - ilustrasi (beritaterbaru.co.id)
Solar panel untuk pembangkit listrik tenaga surya – ilustrasi (beritaterbaru.co.id)

Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, sejak dua tahun terakhir telah melakukan penggantian lampu median jalan protokol dengan aplikasi satu tiang listrik tidak sampai 500 watt sehingga dapat menghemat energi listrik hingga 70 persen.

“Sejak dua tahun lalu kami telah berupaya melakukan penghematan melalui penggantian lampu di median jalan protokol yang lebih hemat energi. Kalau dahulu, satu tiang bisa mencapai 1.000 watt, tetapi yang terpasang saat ini satu tiang listrik dayanya hanya 500 watt,” kata Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang pada peringatan Hari Bumi di Samarinda, Minggu (29/3).

Peringatan Hari Bumi tersebut diprakarsai Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Unmul Samarinda didukung Dinas Kebersihan Pemkot Samarinda, SKK Migas, serta Total Indonesia.

Selain itu, kata Syaharie Jaang, Pemerintah Kota Samarinda juga telah melakukan studi banding di Jakarta untuk mempelajari produk baru lampu hemat energi dengan sistem komputerisasi.

“Sistim baru ini sangat baik karena bisa menggunakan daya energi listrik sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, satu median jalan terdapat 50 tiang, lampu yang menyala bisa 20 tiang saja dengan melihat kebutuhan,” kata Syaharie Jaang.

Kota Samarinda, kata dia, juga akan mulai mengimplementasikan lampu hemat energi melalui sistem komputerisasi itu.

“Kini, tinggal cari cara untuk menurunkan wattnya saja. Pemkot Samarinda siap memfasilitasi atau mendanai kerja sama penelitian tentang hal ini antara Dinas Kebersihan dan Mahasiswa teknik Lingkungan Unmul,” ujar Syaharie Jaang.

Sementara itu, perwakilan manajeman Total Indonesia Rahmat Jatmiko mengakui bahwa perusahaan minyak dan gas (migas) tersebut saat ini tengah mempromosikan lampu tenaga sinar matahari.

“Ke depannya, andai setiap rumah ada solar panel, tidak perlu listrik lagi sebab masyarakat bisa menggunakan energi matahari yang sangat melimpah,” kata Rahmat Jatmiko.

Matahari sebagai sumber energi yang melimpah, menurut dia, harus dimaksimalkan karena Indonesia adalah daerah tropis, khususnya Kalimantan Timur yang dilewati garis lintang, sebenarnya bisa memaksimalkan tenaga matahari sehingga tidak harus bergantung terus pada sumber alam, seperti minyak dan batu bara.

Selain itu, lanjut dia, harus diciptakan sumber energi lainnya, seperti dari limbah kelapa sawit ataupun gas metan dari sampah itu suatu tantangan bagi para mahasiswa untuk mengeksplorasi studinya.

“Kita patut bersyukur karena Indonesia diberi kekayaan alam yang berlimpah. Karena daerah tropis, matahari bisa digunakan sebagai sumber energi yang besar. Beda dengan Eropa yang mungkin disinari matahari penuh hanya sekitar dua bulan saja,” ungkap Rahmat Jatmiko.

Sumber : Antara, beritasatu, beritaterbaru.

DENGAN UANG Rp. 7.500,- BISA NAIK HAJI

kabah-300x225

Antara percaya dan tidak percaya. Atau, sebagian ada yang percaya, sebagian lagi langsung berpikir tidak mungkin terjadi. Mungkin itulah gambaran seketika para pembaca melihat judul diatas. Dengan uang sejumlah Rp.7.500,- (Tujuh ribu lima ratus rupiah), bisa digunakan untuk naik haji, hanya dengan satu syarat. Tentu sangat jauh sekali jika dibandingkan BPIH tahun 2014 ini yang pada kisaran 40 juta Rupiah. Syarat tersebut adalah, kita bisa kembali pada awal tahun 1950-an. Tentu hal yang tidak mungkin untuk kita penuhi. Pada tahun 1952 biaya haji memang hanya sebesar Rp.7.500,-

Ya, musim haji ini mengingatkan pada cerita beberapa orang tua yang penulis temui. Sebelum tahun 1979, ibadah haji ke Makkah, Saudi Arabia bisa dilakukan melalui jalur darat, laut dan udara. Tentu hanya segelintir orang melakukannya dengan jalur darat. Dahulu, jalur laut menjadi primadona. Sekarang jalur udara menjadi satu-satunya jalur resmi pemberangkatan jamaah haji Indonesia.
Penggunaan pesawat terbang pertama kali dilakukan pada musim haji tahun 1952. Ketika itu biaya haji sebesar Rp. 7.500,- untuk kapal laut dan Rp.16.691,- untuk pesawat terbang. Hingga tahun 1960-an jalur laut masih menjadi primadona orang Indonesia. Disamping biayanya yang jauh lebih murah, pada waktu itu orang-orang masih takut naik pesawat terbang. Hanya orang-orang tertentu yang benar-benar sibuk dan banyak duit yang menggunakan pesawat terbang untuk berangkat haji. Pada tahun 1964, Pemerintah membentuk dan menunjuk PT. Arafat sebagai satu-satunya  persahaan yang menangani angkutan haji melalui laut. Pada saat itu biaya haji sebesar Rp. 400.000,- untuk kapal laut, sedangkan untuk pesawat terbang sebesar Rp.1.400.000,-

Pada tahun 1970-an tren mulai bergeser. Kapal laut tidak lagi dominan, digantikan oleh pesawat terbang yang menjadi primadona. Hal ini dikarenakan pada saat itu, biaya haji menggunakan pesawat tidak terpaut jauh dibandingkan biaya haji menggunakan kapal laut. Keuntungannya pada waktu tempuh pesawat terbang yang jauh lebih pendek. Pada tanggal 19 Mei 1973, Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres No.19 Tahun 1973 tentang Besarnya ongkos untuk naik haji Tahun 1973/1974. Berdasarkan keputusan tersebut, biaya haji dengan kapal laut ditetapkan sebesar Rp.418.000,- s/d Rp.424.000,- Sedangkan dengan pesawat terbang sebesar Rp.433.000,- s/d Rp.446.000,-. Biaya tersebut sudah termasuk pengembalian untuk uang saku jamaah sebesar Rp. 10.000,-.  Pada musim haji tersebut, jamaah haji dengan kapal laut hanya seperempat dari total jamaah haji Indonesia.

Pada tahun 1978, biaya haji dengan pesawat terbang yang hanya Rp.766.000,- jauh lebih murah dibandingkan dengan kapal laut yang sebesar Rp.905.000,-. Hal ini yang menyebabkan pada tahun 1979, PT Arafat dinyatakan pailit oleh Pemerintah karena tidak mampu lagi mengurusi pemberangkatan haji lewat laut. Sejak saat itu, hanya ada satu jalur pemberangkatan haji resmi Pemerintah, yaitu jalur udara menggunakan pesawat udara.

Beberapa kisah mengiringi sejarah perjalanan haji dengan kapal laut. Hajjah Albiah, seorang warga Rawalaut, Bandar Lampung. Beliau pertama berangkat haji tahun 1937, berangkat dari Pelabuhan Srengsem, Panjang, Bandar Lampung. Ketika itu beliau masih berusia 9 tahun, berangkat bersama 13 orang keluarganya termasuk kedua orangtua dan neneknya, dalam keadaan ibunya yang masih mengandung. Perjalanan Lampung – Mekkah memakan waktu dua bulan lebih, dengan ibadah haji bisa memakan waktu selama tujuh bulan. Ketika perjalanan pulang dari haji sampai Laut Sumatera, adiknya lahir dari rahim ibunya. Ayahnya memberi nama Baliroh, diambil dari nama kapal Balitar yang mereka tumpangi.

Lain lagi kisah Abu Bakar yang naik haji bersama keluarganya pada kisaran tahun 1960-an. Ketegangan menyelimuti semua penumpang kapal ketika melewati area konflik India dan Pakistan. Dari atas kapal, seringkali mendengar dentuman bahan peledak atau tembakan martil. Tak jarang langit diatas kapal menyajikan pemandangan lalu lalang amunisi dari kedua belah pihak. Jika sampai terlambat memberikan sinyal kapal angkutan haji, bisa saja mereka menjadi korbannya. Tidak sedikit kapal-kapal pedagang yang menjadi korban penembakan kedua belah pihak.

Sumber : http://www.pelita.or.id/, http://e-kuna.blogspot.com/, http://lampost.co/, http://sipuu.setkab.go.id/

HAPPY BROWSING! AGAIN!

K640_DSCN0059

Beberapa bulan terakhir website Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Purworejo mengalami gangguan. Hal ini disebabkan karena tidak sempurnanya proses migrasi dari alamat url lama http://pengairan.purworejokab.go.id ke alamat url baru di http://sdaesdm.purworejokab.go.id.

Sekarang, website Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Purworejo telah dapat dinikmati kembali. Beberapa postingan terdahulu secara bertahap terus kami posting ulang, sembari diselingi beberapa posting baru. Terima kasih atas segala dukungan dan doanya sehingga website ini dapat kembali mengudara untuk menyajikan informasi yang semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Selamat berselancar kembali!

BEDUG PENDOWO, KEBANGGAAN PURWOREJO

bedug_dunia

 

Masyarakat Purworejo tentu saja tidak asing dengan Bedug Pendowo. Sebuah alat tabuh yang juga terkenal dengan nama Bedug Kyai Bagelen ini dibuat pada masa Bupati pertama Purworejo, Raden Adipati Cokronegoro I. Ada beberapa pendapat perihal riwayat pembuatan bedug ini. Berdasarkan pendapat yang paling banyak, kisah pembuatan Bedug Pendhowo dimulai ketika pada kisaran tahun 1834 M, setelah selesainya pembangunan Masjid Agung Puworejo. Adipati merasa perlu untuk melengkapinya dengan sebuah bedug sebagai penanda waktu sholat. Setelah berembug dengan berbagai pihak, akhirnya Adipati menyetujui saran dari adiknya, Tumenggung Prawironegoro, wedono Bragolan, untuk menggunakan pangkal pohon jati pendowo sebagai bahan pembuatan bedug.  lalu dibuatlah bedug dengan bahan utama pangkal pohon jati pendowo yang ada di Desa Pendowo, Purwodadi. Konon, pohon jati tersebut sudah sangat tua, berusia ratusan tahun. Berhubung menggunakan pangkal pohon jati yang berukuran sangat besar, tentu saja proses pembuatannya dilaksanakan di daerah asal pohon jati tersebut.

Permasalahan muncul ketika bedug telah selesai dibuat. Adipati belum menemukan cara untuk memindahkan bedug tersebut ke Masjid Agung Purworejo, mengingat ukurannya yang sangat besar. Kembali, Adipati mendapat masukan dari adiknya supaya mengangkat seorang Kiai dari daerah Solotiyang, Maron, Loano untuk memimpin proyek pemindahan bedug tersebut. Kiai Haji Yunus Muhammad Irsyad nama Kiai tersebut. Selain, memiliki ilmu agama yang tinggi, beliau juga terkenal memiliki pemikiran yang sangat jenius, jauh diatas rata-rata orang awam. Lalu ditunjuklah Kiai Haji Yunus M. Irsyad untuk memimpin pemindahan bedug pendowo. Dengan menggunakan teknik yang sudah dirancang sedemikian rupa, serta dengan membuat beberapa pos peristirahatan, sepanjang perjalanan para pekerja dihibur dengan berbagai kesenian, sehingga menambah semangat dalam mengangkat bedug. Sekitar 20 hari proses perjalanan, akhirnya Bedug Pendowo berhasil dipindahkan dari tempat asal pembuatannya menuju Masjid Agung Purworejo.

Bedug tersebut kini menjadi potensi yang tak ternilai bagi Kabupaten Purworejo. Selain tentu saja merupakan aset religius, Bedug Pendowo juga merupakan aset pariwisata bagi Purworejo. Terbukti, banyak sekali wisatawan yang singgah di alun-alun Purworejo untuk melihat Bedug Pendowo yang sudah terkenal seantero Negeri bahkan dunia.

RIBUAN PEMUDA PURWOREJO BERSHOLAWAT BARENG BUPATI

K640_bupati sholawat

Ribuan warga Purworejo Sabtu (16/11) malam memadati Jalan Setiabudi depan Pendopo Kabupaten. Mereka berbondong-bondong untuk bersholawat bersama Bupati Purworejo Drs. KH. Mahsun Zain, M.Ag. Kegiatan bertajuk Maulid Akbar dalam rangka Hari jadi Kabupaten Purworejo serta Menyambut Tahun Baru Hijriyah tersebut diselenggarakan oleh Pemuda Ahbaabul Musthofa Purworejo. Pembacaan Sholawat Simtudduror dipimpin oleh Al-Habib Aqil Qutban dari Mlangi Yogyakarta. Ribuan warga, laki-laki dan perempuan bersemangat mengikuti sholawat yang dilantunkan beliau didampingi oleh Ustadz Zamam, salah satu Qori’ Nasional.

Pada kesempatan tersebut, KH. Thoifur Mawardi dalam pengajiannya mengajak umat Islam terutama di Kabupaten Purworejo untuk senantiasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau mengibaratkan, unta saja suka kepada Nabi, oleh karena itu manusia jangan sampai kalah dengan unta. Sementara itu, Bupati Purworejo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Pemuda Ahbaabul Musthofa Purworejo yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan tersebut. “Seperti kita ketahui, belakangan ini beberapa musibah atau bala menimpa Purworejo. Kemarin ada oplosan,semoga dengan kegiatan yang positif seperti ini, Purworejo dapat terhindarkan dari musbah-musibah lainnya.” kaat Beliau. Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Purworejo H. Moh Dahlan, SE serta beberapa tokoh masyarakat lainnya.

Pemuda Ahbaabul Musthofa Purworejo sendiri merupakan suatu organisasi yang dipimpin oleh Habib Umar Al-Attos. Didirikan oleh sekelompok pemuda yang cinta sholawat, dengan agenda utama Pembacaan Sholawat Al-Habsyi atau yang lebih dikenal dengan nama Maulid Simtudduror setiap Malam Minggu Pon. Dalam pendiriannya Pemuda Ahbaabul Musthofa mendapat restu langsung dari beliau Al-Habib Syech bin Abdulqodir Assegaf dari Solo. Bahkan nama Pemuda Ahbaabul Musthofa merupakan pemberian beliau.

TIM JURI PKPD-PU KUNJUNGI PURWOREJO

Tim PKPD-PU melihat pelaksanaan kegiatan IPAIR P3A Desa Karangmulyo
Tim PKPD-PU melihat pelaksanaan kegiatan IPAIR P3A Desa Karangmulyo

Hari pertama masuk setelah libur  dan cuti bersama Idul Adha, Dinas Pengairan Kabupaten Purworejo kedatangan tamu. Rabu (16/10) kemarin yang datang ke Purworejo adalah Tim Juri Lomba Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU) Sub Bidang Sumber Daya Air. Tim tersebut terdiri dari 4 (empat) orang, masing-masing Prof. Slamet Imam Wahyudi mewakili akademisi, Ir. Leonarda B. Ibnusaid dari Pejabat Struktural Kementerian PU, Ir. Alfa K. Tampubolon dari Pejabat Fungsional serta  Ir. Usman Gunadi, tim Teknis Ditjen SDA.
Kabupaten Purworejo memang termasuk dalam shortlist untuk mengikuti PKPD-PU Sub Bidang SDA Tahun 2013.  Beberapa waktu yang lalu para peserta yang masuk dalamshortlist diberikan kuisioner untuk dijawab dan dikirimkan ke Ditjen SDA Kementerian PU beserta dokumen pendukungnya. Oleh karena itu, kemarin dilakukan peninjauan lapangan untuk memastikan kesesuaian data yang sudah dikirim. Adapun penilaian lomba tersebut terdiri dari 4 item yaitu Presentasi, Kelembagaan, Jawaban Kuisionar serta Lapangan. Penilaian lapangan sendiri di titik beratkan pada tiga kegiatan yaitu, pengelolaan irigasi, konservasi serta pengendalian daya rusak air.

Kemarin tim dari PKPD-PU diajak untuk melihat pengelolaan irigasi DI. Boro, termasuk meninjau pelaksanaan kegiatan IPAIR di Desa Karangmulyo. Selain itu juga melihat pemanfaat air baku di Desa Pamriyan Kecamatan Pituruh. Pemanfaatan ari baku yang berbasis masyarakat di Desa Pamriyan mengambil air dari beberapa mata air yang masuk inventarisasi aset Dinas Pengairan Kabupaten Purworejo. Berdasarkan data inventarisasi tahun 2005 terdapat sedikitnya 188 mata air di wilayah Kabupaten Purworejo. Diantara 188 mata air tersebut, 43 lokasi merupakan mata air potensial yang sudah terdata kemanfaatannya bagi masyarakat. akhir-akhir ini juga digalakkan kegiatan konservasi mata air bekerjasama dengan berbagai instansi, termasuk Bappeda dan Balai PSDA Probolo, baik kegiatan fisik maupun nonfisik seperti kegiatan Gerakan Nasional Kemitraan Pelestarian Air (GNKPA).

Pada kesempatan tersebut, tim dari Kementerian PU juga menyampaikan apresiasi terhadap pengelolaan TIK di Dinas Pengairan Kabupaten Purworejo yang sudah cukup maju.

835 PEJABAT DILANTIK, SEMUA POSISI DI PENGAIRAN SUDAH TERISI

 

pelantikan 12

Jum’at (18/10) pagi, bertempat di ruang Arahiwang Setda Purworejo, Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg melantik dan mengambil sumpah pejabat eselon II, III, IV dan V. Seluruh pejabat struktural pada Dinas Pengairan yang kini berganti nama menjadi Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral akhirnya terisi. Beberapa jabatan yang sudah kosong dalam jangka waktu yang cukup lama diisi oleh beberapa muka baru. Beberapa posisi lain masih tetap alias tidak mengalami pergantian. Beberapa posisi yang masih tetap adalah Sekretaris Dinas masih tetap Ir. Suparno, MM. Kabid Irigasi masih tetap dijabat oleh Joko Wagiyono, ST. Kasubbag Umum dan Kepegawaian masih tetap Yoso Pramono, SH. Kemudian Kasi Rehabilitasi dan Pemeliharaan serta Kasi Operasional dan Irigasi Desa masih tetap dijabat oleh Widayat Turokhman, ST dan Karyadi, ST.

Di Bidang Sumber Daya Air, Kepala Bidang yang tadinya kosong akhirnya dijabat oleh Wijayanto Laban, BE, S.Sos.,MM. yang tadinya merupakan Kabid Kapasitas dan Kelembagaan Pemdes/Kelurahan di Bapermasdes. Sedangkan Ir. Gunarto, ST. yang semula menjabat Kasi Pemberdayaan dan Perijinan sedikit bergeser menjadi Kasi Sungai, Drainase dan Sistem Informasi. Seksi Pemberdayaan dan Perijinan pada Bidanga SDA sendiri dihapus dan diganti dengan Seksi Pengkajian dan Pengembangan yang dijabat oleh Suwandi, ST yang sebelumnya merupakan Kasi Sarana dan Prasarana Disperindagkop. Beberapa tahun yang lalu juga pernah menjabat di Dinas Pengairan sebagai Kasi Operasional pada Bidang Irigasi.

Pada Sekretariat Dinas, dua posisi yang tadinya kosong cukup lama akhirnya terisi oelh muka baru. Kasubbag Keuangan dijabat oleh Christina Dewandari, SH yang tadinya merupakan Kasubbag Keuangan Bapeluh dan KP. Sedangkan Kasubbag Perancanaan, Evaluasi dan Pelaporan dijabat oleh Dra. Tri Retno Sari Dewito Wulandari yang sebelumnya menjabat Kasubbag Keuangan Dilatanak.

Pada Bidang yang baru, yaitu Bidang Energi Sumber Daya Mineral, kabid dijabat oleh Adia Nur, ST. semula merupakan Kabid Perikanan Dilatanak. Sedangkan seksi energi dijabat oleh Muhammad Arif Lumaela, SE. yang tadinya Kasi Pertambangan dan Energi Disperindagkop, serta satu lagi seksi Sumber Daya Mineral dijabat oleh Udi Kurniawan, ST. yang sebelumnya merupakan pelaksana di Disperindagkop.

DINAS PENGAIRAN JUARA UMUM LOMBA PEMANFAATAN TIK

Petugas PDE bersama Sekretaris Dinas Pengairan memamerkan sejumlah trofi yang diraih
Petugas PDE bersama Sekretaris Dinas Pengairan memamerkan sejumlah trofi yang diraih

Dinas Pengairan Kabupaten Purworejo kembali mencatatkan prestasi. Kali ini di bidang insformasi dan teknologi (IT). Selasa, 17 September 2013, seusai upacara luar biasa di Halaman Setda, Dinas Pengairan dikukuhkan sebagai Juara Umum Lomba Pemanfaatan dan Pembudayan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Tahun 2013 timgkat Kabupaten Purworejo. Dengan demikian, Dinas Pengairan berhak mendapatkan Piala Bergilir dari Bupati Purworejo yang diserahkan oleh Sekretaris Daerah Drs. Tri Handoyo, MM. Piala tersebut pada tahun 2012 lalu dimenangkan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop).

Menururt Kabag Humas, Drs. Joko Saptono, Dinas Pengairan menjadi Juara Umum setelah memperoleh akumulasi nilai tertinggi dari dua kategori yang dilombakan. yaitu penilaian konten sub domain (website) serta penilaian terhadap Petugas Pengelola Data Elektronik (PDE) SKPD. Pada lomba sub domain (website), Juara I diraih Dinas Perindagkop (diperindagkop.purworejokab.go.id), Juara II Dinas Pertanian dan Kehutanan (dipertanhut.purworejokab.go.id) serta Juara III Dinas Pengairan (pengairan.purworejokab.go.id). Sedangkan untuk kategori lomba Petugas PDE, Juara I diraih oleh M. Faisol Reza, Amd. (Dinas Pengairan), Juara II Nandang Darma SSP (Dipertanhut) serta Juara III Fakhrudin Hidayat, Amd. (Diperindagkop).

Menurut beliau, lomba itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran jajaran pimpinan SKPD agar lebih peduli dengan pemanfaatan TIK di instansinya, serta bertujuan membangun semangat petugas PDE, Bakohumas dan Sekretaris/Kasubag TU di masing-masing SKPD, dalam memanfaatkan TIK dan mengelola website pada subdomain masing-masing.

Sedangkan Sekda Drs. Tri Handoyo, MM. dalam sambutannya menyampaikan bahwa, penerapan TIK merupakan bentuk pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung aktivitas-aktivitas pemerintahan yang tentu saja bertujuan untuk memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. “Oleh karena itu tidak berlebihan kalau TIK dianggap sebagai tulang punggung reformasi birokrasi,” tandasnya.

Pada kenyataannya, masyarakat sudah mulai memanfaatkan subdomain pengairan.purworejokab.go.id untuk menjalin komunikasi dengan Pemerintah Daerah terutama di bidang irigasi. Sebagian masyarakat menyampaikan keluhan terkait permasalahan irigasi di daerahnya, ada yang menyampaikan saran-saran, bahkan ada yang sekedar menyapa atau silaturahmi. Lebih luas lagi, konten sub domain Dinas Pengairan tidak jarang juga dimanfaatkan oleh kalangan akademi. Seperti pelajar yang mencari materi untuk mengerjakan tugas sekolah, mahasiswa yang mencari bahan untuk skripsi/tugas akhir, ataupun mereka yang sekedar ingin menambah wawasan dan pengetahuan. Hal ini tentu saja dikarenakan konten subdomain Dinas Pengairan juga berisi tentang informasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

BUDIONO IKUTI LOMBA OP IRIGASI TINGKAT NASIONAL

Budiono memarken trofi Juara tingkat Provinsi bersama Bupati Purworejo dan Kepala Dinas Pengairan
Budiono memarken trofi Juara tingkat Provinsi bersama Bupati Purworejo dan Kepala Dinas Pengairan

Jajaran Dinas Pengairan Kabupaten Purworejo kembali mendapatkan kesempatan untuk mengukir prestasi tingkat Nasional. Pada tahun lalu, Ngaderi, Mantri Pengairan Bayan berhasil menjadi Juara II Lomba OP Irigasi tingkat Nasional. Kali ini giliran Budiono, Mantri Pengairan Purwodadi II, UPT Dinas Pengairan Wilayah Purwodadi yang akan mengikuti lomba tersebut mewakili provinsi Jawa Tengah. Kesempatan tersebut diperoleh setelah beberapa waktu yang lalu Kemantren Purwodadi II berhasil menjadi juara pada tingkat regional Jawa Tengah. Lomba tingkat nasional tersebut, kembali dilaksanakan dalam dua sesi penilaian. Pada sesi pertama, yaitu sesi paparan akan dilaksanakan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada tanggal 31 Agustus s/d 2 September 2013. Sedangkan sesi kedua yaitu penilaian lapangan akan dilaksanakan segera setelah selesainya lomba sesi pertama.

Walaupun kedua sesi sangat penting, akan tetapi penilaian lapangan mempunyai peranan yang lebih penting. Hal ini dikarenakan pada saat tim dewan juri mendatangi lapangan, maka akan mengetahui kondisi yang sebenarnya, apakah sesuai dengan apa yang sudah disampaikan pada sesi pemaparan. Oleh karena sangat dibutuhkan doa restu serta peran serta secara langsung dari masyarakat, terutama di wilayah Kemantren Purwodadi II. Dengan doa restu dan peran serta secara langsung dari masyarakat, diharapkan Dinas Pengairan kembali mengharumkan nama Kabupaten Purworejo di tingkat Nasional. Lebih dari itu, tentu saja diharapkan akan dapat memberikan pelayanan serta kepuasan bagi masyarakat, terutama para petani pemakai air irigasi.