DENGAN UANG Rp. 7.500,- BISA NAIK HAJI

kabah-300x225

Antara percaya dan tidak percaya. Atau, sebagian ada yang percaya, sebagian lagi langsung berpikir tidak mungkin terjadi. Mungkin itulah gambaran seketika para pembaca melihat judul diatas. Dengan uang sejumlah Rp.7.500,- (Tujuh ribu lima ratus rupiah), bisa digunakan untuk naik haji, hanya dengan satu syarat. Tentu sangat jauh sekali jika dibandingkan BPIH tahun 2014 ini yang pada kisaran 40 juta Rupiah. Syarat tersebut adalah, kita bisa kembali pada awal tahun 1950-an. Tentu hal yang tidak mungkin untuk kita penuhi. Pada tahun 1952 biaya haji memang hanya sebesar Rp.7.500,-

Ya, musim haji ini mengingatkan pada cerita beberapa orang tua yang penulis temui. Sebelum tahun 1979, ibadah haji ke Makkah, Saudi Arabia bisa dilakukan melalui jalur darat, laut dan udara. Tentu hanya segelintir orang melakukannya dengan jalur darat. Dahulu, jalur laut menjadi primadona. Sekarang jalur udara menjadi satu-satunya jalur resmi pemberangkatan jamaah haji Indonesia.
Penggunaan pesawat terbang pertama kali dilakukan pada musim haji tahun 1952. Ketika itu biaya haji sebesar Rp. 7.500,- untuk kapal laut dan Rp.16.691,- untuk pesawat terbang. Hingga tahun 1960-an jalur laut masih menjadi primadona orang Indonesia. Disamping biayanya yang jauh lebih murah, pada waktu itu orang-orang masih takut naik pesawat terbang. Hanya orang-orang tertentu yang benar-benar sibuk dan banyak duit yang menggunakan pesawat terbang untuk berangkat haji. Pada tahun 1964, Pemerintah membentuk dan menunjuk PT. Arafat sebagai satu-satunya  persahaan yang menangani angkutan haji melalui laut. Pada saat itu biaya haji sebesar Rp. 400.000,- untuk kapal laut, sedangkan untuk pesawat terbang sebesar Rp.1.400.000,-

Pada tahun 1970-an tren mulai bergeser. Kapal laut tidak lagi dominan, digantikan oleh pesawat terbang yang menjadi primadona. Hal ini dikarenakan pada saat itu, biaya haji menggunakan pesawat tidak terpaut jauh dibandingkan biaya haji menggunakan kapal laut. Keuntungannya pada waktu tempuh pesawat terbang yang jauh lebih pendek. Pada tanggal 19 Mei 1973, Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres No.19 Tahun 1973 tentang Besarnya ongkos untuk naik haji Tahun 1973/1974. Berdasarkan keputusan tersebut, biaya haji dengan kapal laut ditetapkan sebesar Rp.418.000,- s/d Rp.424.000,- Sedangkan dengan pesawat terbang sebesar Rp.433.000,- s/d Rp.446.000,-. Biaya tersebut sudah termasuk pengembalian untuk uang saku jamaah sebesar Rp. 10.000,-.  Pada musim haji tersebut, jamaah haji dengan kapal laut hanya seperempat dari total jamaah haji Indonesia.

Pada tahun 1978, biaya haji dengan pesawat terbang yang hanya Rp.766.000,- jauh lebih murah dibandingkan dengan kapal laut yang sebesar Rp.905.000,-. Hal ini yang menyebabkan pada tahun 1979, PT Arafat dinyatakan pailit oleh Pemerintah karena tidak mampu lagi mengurusi pemberangkatan haji lewat laut. Sejak saat itu, hanya ada satu jalur pemberangkatan haji resmi Pemerintah, yaitu jalur udara menggunakan pesawat udara.

Beberapa kisah mengiringi sejarah perjalanan haji dengan kapal laut. Hajjah Albiah, seorang warga Rawalaut, Bandar Lampung. Beliau pertama berangkat haji tahun 1937, berangkat dari Pelabuhan Srengsem, Panjang, Bandar Lampung. Ketika itu beliau masih berusia 9 tahun, berangkat bersama 13 orang keluarganya termasuk kedua orangtua dan neneknya, dalam keadaan ibunya yang masih mengandung. Perjalanan Lampung – Mekkah memakan waktu dua bulan lebih, dengan ibadah haji bisa memakan waktu selama tujuh bulan. Ketika perjalanan pulang dari haji sampai Laut Sumatera, adiknya lahir dari rahim ibunya. Ayahnya memberi nama Baliroh, diambil dari nama kapal Balitar yang mereka tumpangi.

Lain lagi kisah Abu Bakar yang naik haji bersama keluarganya pada kisaran tahun 1960-an. Ketegangan menyelimuti semua penumpang kapal ketika melewati area konflik India dan Pakistan. Dari atas kapal, seringkali mendengar dentuman bahan peledak atau tembakan martil. Tak jarang langit diatas kapal menyajikan pemandangan lalu lalang amunisi dari kedua belah pihak. Jika sampai terlambat memberikan sinyal kapal angkutan haji, bisa saja mereka menjadi korbannya. Tidak sedikit kapal-kapal pedagang yang menjadi korban penembakan kedua belah pihak.

Sumber : http://www.pelita.or.id/, http://e-kuna.blogspot.com/, http://lampost.co/, http://sipuu.setkab.go.id/